150 Petugas Gabungan Berupaya Padamkan Kebakaran di TNGGP
Sekitar 150 petugas gabungan dan relawan masih berupaya memadamkan kebakaran lahan di kawasan Kawah Wadon, Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat. Penanganan memasuki hari kedua dengan luas area terbakar mencapai sekitar enam hektare.
Tim menghadapi medan yang sulit dan vegetasi kering yang mudah terbakar. Angin kencang juga membuat api berpotensi menjalar ke area lain sehingga proses pemadaman harus dilakukan secara manual.
Petugas Gabungan Dikerahkan ke Kawah Wadon
Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mencatat jumlah personel yang terlibat mencapai sekitar 150 orang. Mereka terdiri atas unsur TNI, Polri, pemadam kebakaran, BPBD Cianjur, petugas TNGGP, serta relawan.
Baca Juga “Berjibaku Padamkan Api di Puncak B-29 Bromo“
Juru Bicara Balai Besar TNGGP Ade Bagja mengatakan jumlah petugas dan relawan terus bertambah. Mereka dikerahkan untuk membantu mengendalikan api yang masih membakar sejumlah titik di Kawah Wadon.
“Sekitar 150 orang petugas dan relawan masih berjibaku memadamkan api agar tidak terus menjalar dan meluas,” kata petugas BPBD Cianjur Ombing.
Petugas menggunakan metode manual karena kondisi medan membuat penggunaan kendaraan atau peralatan pemadam berukuran besar sulit dilakukan. Tim juga harus menjangkau titik api melalui kawasan dengan akses terbatas.
Kebakaran Meluas hingga Sekitar Enam Hektare
Luas lahan yang terbakar berdasarkan pendataan sementara mencapai sekitar enam hektare. Petugas masih melakukan pemutakhiran data karena api terus menjalar ke sejumlah lokasi yang sulit dijangkau.
Kondisi vegetasi di sekitar lokasi turut mempercepat penyebaran api. Rumput dan pepohonan yang mengering menjadi bahan bakar alami ketika terkena sumber panas.
Angin kencang sejak pagi hingga petang juga memperbesar tantangan pemadaman. Pergerakan angin dapat membawa api menuju vegetasi kering di area lain.
Ombing mengatakan angin dan keterbatasan peralatan membuat api bergerak relatif cepat. Tim gabungan kemudian memusatkan upaya untuk mencegah kebakaran meluas ke wilayah yang lebih besar.
Medan Sulit Menjadi Kendala Pemadaman
Lokasi kebakaran di Kawah Wadon menjadi salah satu kendala utama bagi petugas. Akses menuju titik api tidak mudah sehingga personel harus melakukan pemadaman secara langsung menggunakan peralatan manual.
Ade Bagja menjelaskan kondisi pepohonan kering turut menyulitkan proses pemadaman. Tim masih melakukan pendataan untuk mengetahui kondisi kebakaran secara lebih menyeluruh.
“Kendala pemadaman karena lokasi yang sulit dijangkau ditambah banyaknya pepohonan kering yang mudah terbakar,” ujar Ade Bagja.
Kondisi tersebut membuat petugas tidak hanya berfokus pada titik api yang terlihat. Mereka juga perlu mengantisipasi kemungkinan api merambat melalui vegetasi kering menuju area lain.
Penyebab Kebakaran Masih Didalami
TNGGP menduga kebakaran sementara berkaitan dengan faktor alam. Suhu panas dan kondisi vegetasi yang mengering diduga memicu munculnya api di kawasan Kawah Wadon.
Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan akhir. Petugas masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab kebakaran berdasarkan kondisi di lapangan.
Ade Bagja mengatakan tidak terdapat aktivitas manusia di kawasan tersebut sebelum kebakaran terjadi. Meski demikian, pihak TNGGP masih menunggu laporan tim lapangan sebelum menentukan penyebab secara lebih pasti.
“Perkiraan sementara kebakaran di Kawah Wadon karena faktor alam, suhu panas membakar rumput yang mengering sehingga menjalar ke pohon dan tanaman lainnya,” kata Ade.
Pihak TNGGP tetap akan mendalami penyebab kebakaran setelah proses pemadaman dan pemeriksaan lokasi memungkinkan. Langkah tersebut penting untuk memastikan sumber api dan mencegah kejadian serupa terulang.
Kawah Wadon Memiliki Potensi Bahaya
Kebakaran di Kawah Wadon perlu dibedakan dari aktivitas vulkanik Gunung Gede. Berdasarkan keterangan Badan Geologi pada 2025, Gunung Gede masih berstatus Level I atau Normal dan tidak menunjukkan aktivitas yang mengarah pada erupsi.
Badan Geologi juga menjelaskan bahwa Gunung Gede memiliki tiga kawah, yaitu Kawah Wadon, Kawah Ratu, dan Kawah Lanang. Hembusan asap dari Kawah Wadon dapat terjadi dan tidak otomatis menunjukkan adanya erupsi.
Meski status gunung normal, masyarakat dan wisatawan tetap diminta tidak mendekati atau bermalam dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon. Imbauan tersebut berkaitan dengan potensi bahaya gas kawah.
TNGGP juga berkoordinasi dengan Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk memantau kondisi Gunung Gede. Pemantauan menggunakan sejumlah instrumen, termasuk seismometer dan peralatan pemantauan lainnya.
Pemadaman Menjadi Prioritas untuk Cegah Api Meluas
Tim gabungan kini memprioritaskan pengendalian api agar tidak menjalar lebih jauh. Kondisi angin dan vegetasi kering membuat proses tersebut membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan.
Petugas juga perlu memastikan area yang telah dipadamkan tidak kembali menyala. Titik api yang tersembunyi di antara vegetasi kering dapat kembali membesar ketika mendapatkan suplai oksigen dan angin.
Pengalaman kebakaran sebelumnya di kawasan TNGGP menunjukkan bahwa kebakaran vegetasi dapat menghanguskan area cukup luas. Pada 2023, kebakaran di Alun-Alun Suryakancana tercatat mencapai sekitar 29 ribu meter persegi.
Peristiwa tersebut juga mendorong TNGGP memperketat aturan untuk mencegah kebakaran. Salah satunya melalui larangan membuat api unggun serta membawa atau menyalakan benda yang dapat memicu kebakaran di jalur pendakian.
Kondisi Lapangan Masih Menjadi Perhatian
Kebakaran di Kawah Wadon menunjukkan tantangan pengendalian api di kawasan pegunungan. Medan yang sulit, vegetasi kering, dan angin dapat mempercepat penyebaran api sekaligus membatasi akses petugas.
Dengan sekitar 150 personel dan relawan yang masih berada di lapangan, pemadaman terus dilakukan untuk mengendalikan titik api. Pendataan luas area terbakar juga masih berlangsung.
Penyebab kebakaran belum dapat dipastikan sepenuhnya karena pemeriksaan masih berjalan. Dugaan faktor alam menjadi salah satu kemungkinan berdasarkan kondisi vegetasi dan cuaca di lokasi.
Keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh pemadaman api. Petugas juga perlu memastikan tidak ada titik panas yang kembali menyala dan mengantisipasi penyebaran api ke kawasan lain.
Masyarakat dan wisatawan juga perlu mengikuti arahan petugas serta tidak memasuki area berbahaya. Informasi mengenai kondisi kebakaran dan aktivitas Gunung Gede sebaiknya diperoleh melalui sumber resmi untuk menghindari informasi yang keliru.
Untuk sementara, fokus utama tim gabungan adalah menghentikan penyebaran api dan memastikan kawasan terdampak dapat diamankan. Hasil pendataan serta penyelidikan penyebab kebakaran akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Baca Juga “HUT ke-81 RI, semua transportasi yang dikelola DKI Jakarta cuma Rp1“