BNPB Catat Kenaikan Titik Panas Karhutla di Kalimantan

BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan titik panas dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan pada Senin, 31 Agustus 2026.

Pemantauan BNPB menunjukkan jumlah titik panas meningkat di Kalimantan Barat. Sementara itu, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan mencatat penurunan jumlah titik panas.

Meski jumlah titik panas tidak seragam, BNPB tetap mewaspadai kondisi karhutla karena aktivitas kebakaran dan asap dapat mengganggu jarak pandang serta kualitas udara.

Kalimantan Barat Catat Kenaikan Titik Panas Tertinggi
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan peningkatan titik panas paling signifikan. BNPB mencatat 7.377 titik panas pada Senin.

Jumlah tersebut bertambah 3.553 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya. BNPB juga mencatat 104 fire spot atau titik api, meningkat 88 titik.

Kondisi tersebut berdampak pada jarak pandang di wilayah Kalimantan Barat. Jarak pandang tercatat kurang dari satu kilometer sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas di luar ruangan.

Baca Juga “Jarak Pandang Menyempit, Titik Panas Karhutla Kalimantan Kian Meroket

Titik Panas Kalimantan Tengah dan Selatan Menurun
Di Kalimantan Tengah, BNPB mencatat 5.244 titik panas. Angka tersebut turun 147 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya.

Namun, jumlah fire spot justru meningkat menjadi 72 titik atau bertambah 16 titik. Jarak pandang di wilayah tersebut tercatat kurang dari satu kilometer.

Sementara itu, Kalimantan Selatan memiliki 504 titik panas. Jumlah tersebut turun 405 titik, tetapi fire spot meningkat menjadi 55 titik atau bertambah tiga titik.

Jarak pandang di Kalimantan Selatan tercatat kurang dari dua kilometer. Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan titik panas belum sepenuhnya menghilangkan potensi dampak karhutla.

BNPB Waspadai Sebaran Polutan di Kalimantan
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP. Panjaitan mengatakan jumlah titik panas di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menunjukkan kondisi yang perlu diperhatikan.

Menurut Berton, peningkatan paling signifikan terjadi di Kalimantan Barat. Sementara itu, jumlah titik panas di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan cenderung menurun.

BNPB juga memantau sebaran polutan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada Senin dan Selasa, 1 September 2026, polutan diperkirakan masih relatif pekat di sejumlah wilayah Kalimantan.

Kondisi tersebut terutama diperkirakan terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. BNPB menyebut kondisi ini menunjukkan konsentrasi asap yang masih cukup tebal.

Titik Panas Sumatera Selatan Justru Meningkat
Perkembangan karhutla di Sumatera menunjukkan pola berbeda. BNPB mencatat jumlah titik panas secara umum menurun di Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.

Namun, Sumatera Selatan mengalami kenaikan titik panas sebesar 209 titik. Total titik panas di provinsi tersebut mencapai 1.013 titik.

Jumlah fire spot di Sumatera Selatan mencapai 11 titik atau turun tujuh titik. Jarak pandang di wilayah tersebut tercatat kurang dari lima kilometer.

Di Riau, jumlah titik panas turun 202 titik menjadi 62 titik. Fire spot juga turun menjadi 12 titik, sedangkan jarak pandang berada pada kisaran empat hingga lima kilometer.

Jambi mencatat 49 titik panas atau turun 86 titik. BNPB juga mencatat empat fire spot dengan jarak pandang sekitar enam hingga tujuh kilometer.

BNPB Imbau Masyarakat Pantau Kualitas Udara
Berton mengingatkan masyarakat agar memantau kondisi kualitas udara sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak asap karhutla.

Masyarakat dapat memanfaatkan informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang disediakan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Informasi tersebut dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi udara hingga tingkat kabupaten dan kota.

Pemantauan ISPU penting dilakukan ketika asap karhutla memengaruhi kualitas udara. Masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dan menerapkan langkah pencegahan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Data Titik Panas dan Fire Spot di Enam Provinsi
Provinsi Titik panas Perubahan Fire spot Perubahan Jarak pandang
Kalimantan Barat 7.377 +3.553 104 +88 <1 km
Kalimantan Tengah 5.244 -147 72 +16 <1 km
Kalimantan Selatan 504 -405 55 +3 <2 km
Riau 62 -202 12 -2 4–5 km
Sumatera Selatan 1.013 +209 11 -7 <5 km
Jambi 49 -86 4 — 6–7 km

Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan karhutla berbeda antarwilayah. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan lonjakan titik panas terbesar, sedangkan Sumatera Selatan juga mencatat peningkatan meski berada di luar Kalimantan.

Masyarakat Perlu Mengikuti Perkembangan Karhutla
BNPB terus memantau titik panas, fire spot, jarak pandang, serta sebaran polutan untuk melihat perkembangan karhutla. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan langkah kewaspadaan di wilayah terdampak.

Masyarakat di wilayah dengan kualitas udara buruk perlu memperhatikan informasi resmi pemerintah. Perubahan kondisi cuaca dan sebaran asap juga perlu menjadi pertimbangan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Perkembangan titik panas dan kualitas udara pada hari-hari berikutnya akan menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat risiko karhutla. Karena itu, pemantauan informasi BNPB, BMKG, dan ISPU tetap diperlukan untuk mengantisipasi dampak asap dan kebakaran.

Baca Juga “BNPB Catat 7.377 Titik Panas Karhutla di Kalimantan Barat, Asap Masih Pekat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *