Polisi Selidiki Dugaan Child Grooming Kepsek Tangsel

polisi

Polisi Selidiki Dugaan Child Grooming Kepala Sekolah di Tangerang Selatan

Polisi tengah menyelidiki dugaan child grooming yang melibatkan seorang kepala sekolah berinisial AMA di salah satu sekolah menengah kejuruan swasta di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Kasus tersebut menjadi perhatian publik setelah sejumlah unggahan di media sosial viral dan memuat pengakuan anonim terkait dugaan manipulasi psikologis terhadap siswi.

Baca Juga “Viral Aksi Mesum di Taman Kota Solo, Wali Kota: Kami Tambah CCTV dan Penerangan

Dugaan tersebut memicu reaksi luas karena menyangkut relasi kuasa di lingkungan pendidikan. Aparat kepolisian kini melakukan penyelidikan awal untuk mengumpulkan informasi dan mendalami fakta yang beredar di masyarakat.

Polisi Lakukan Penyelidikan Berdasarkan Patroli Siber

Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, Wira Graha Setiawan, mengatakan penyelidikan dimulai setelah pihak kepolisian menemukan sejumlah unggahan viral melalui patroli siber.

“Kemarin kami melakukan penyelidikan berdasarkan hasil patroli siber setelah menemukan beberapa tautan berita yang viral di media sosial,” ujar Wira saat dikonfirmasi, Sabtu, 16 Mei 2026.

Menurutnya, pihak kepolisian kemudian melakukan penelusuran ke lingkungan sekolah untuk mengumpulkan keterangan awal terkait kasus tersebut.

Di tengah proses penyelidikan, kepala sekolah berinisial AMA disebut mendatangi Polres Tangerang Selatan untuk berkonsultasi mengenai pemberitaan yang beredar di media sosial.

Wira mengatakan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) langsung meminta keterangan dari yang bersangkutan hingga malam hari.

“Unit PPA mengambil keterangan terhadap yang bersangkutan hingga sekitar pukul 23.00 WIB,” katanya.

Dugaan Child Grooming Viral di Media Sosial

Kasus ini mencuat setelah sejumlah akun anonim membagikan cerita mengenai dugaan perilaku manipulatif di lingkungan sekolah. Dalam unggahan tersebut, kepala sekolah disebut melakukan pendekatan emosional kepada siswi tertentu.

Beberapa unggahan menyinggung pola pendekatan terhadap siswi yang dianggap memiliki kondisi emosional rentan, termasuk anak yang kurang mendapat perhatian dari figur ayah atau fatherless.

Dugaan perilaku tersebut disebut terjadi berulang kali dan menimbulkan keresahan di lingkungan sekolah. Namun hingga kini, polisi masih mendalami validitas informasi yang beredar di media sosial.

Komnas Perempuan Jelaskan Pola Child Grooming

Komnas Perempuan menjelaskan bahwa child grooming merupakan bentuk kekerasan berbasis gender terhadap anak yang dilakukan melalui manipulasi emosional dan relasi kuasa yang tidak seimbang.

Dalam banyak kasus, pelaku biasanya membangun kedekatan emosional dengan korban secara bertahap sebelum melakukan tindakan yang lebih jauh.

Komnas Perempuan menyebut pola child grooming dapat muncul melalui berbagai strategi, seperti memberikan perhatian berlebihan, menjadi tempat curhat, memberi hadiah, hingga membangun ketergantungan emosional terhadap korban.

Pelaku juga sering meminta korban merahasiakan hubungan tersebut untuk menjauhkan anak dari lingkungan pendukung, termasuk keluarga dan teman dekat.

Selain itu, manipulasi rasa bersalah, ancaman, hingga tekanan psikologis sering digunakan agar korban terus menuruti keinginan pelaku.

Sekolah Nonaktifkan Kepala Sekolah Sementara

Menanggapi kasus yang viral, pihak sekolah dan yayasan mengambil langkah administratif dengan menonaktifkan sementara kepala sekolah berinisial AMA dari jabatannya.

Melalui pernyataan resmi di akun Instagram sekolah, pihak yayasan menyebut langkah tersebut dilakukan untuk menjaga transparansi dan mendukung proses investigasi yang sedang berjalan.

“Penonaktifan jabatan dilakukan demi menjunjung tinggi transparansi dan kelancaran proses investigasi,” tulis pihak sekolah.

Yayasan juga menyatakan telah membentuk tim internal untuk mendalami fakta dan memastikan penanganan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.

Pihak sekolah menegaskan fokus utama saat ini adalah menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar bagi seluruh siswa.

“Fokus utama kami saat ini adalah memastikan lingkungan belajar tetap aman dan kondusif bagi seluruh siswa-siswi,” tulis pernyataan tersebut.

Kasus Jadi Sorotan Soal Perlindungan Anak di Lingkungan Pendidikan

Kasus dugaan child grooming di lingkungan sekolah kembali memunculkan perhatian terhadap pentingnya perlindungan anak dalam institusi pendidikan. Relasi kuasa antara tenaga pendidik dan siswa dinilai membutuhkan pengawasan ketat untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan.

Pengamat perlindungan anak menilai sekolah perlu memiliki mekanisme pelaporan yang aman dan sistem pendampingan psikologis bagi siswa. Selain itu, edukasi mengenai kekerasan berbasis gender dan manipulasi emosional dinilai penting diberikan sejak dini.

Hingga kini, proses penyelidikan masih berlangsung dan pihak kepolisian belum menyampaikan kesimpulan resmi terkait dugaan tersebut. Polisi menyatakan akan mendalami seluruh informasi dan keterangan yang diperoleh untuk memastikan penanganan kasus dilakukan secara objektif dan sesuai hukum yang berlaku.

Baca Juga “Camat Medan Polonia Fasilitasi Mediasi Persoalan Penutupan Tembok Viral di Jalan Pekong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *